Memasuki tahun kedua saya di Jepang (cerita tahun pertama ada di sini), tepatnya musim semi 2011 saya resmi memulai perkuliahan saya sebagai mahasiswa master di Dept. of Computer Science and Engineering (情報理工学専攻), Graduate School of Fundamental Science and Engineering (基幹理工学研究科), Waseda University (早稲田大学). Perkuliahan saat itu mestinya dimulai sejak April 2011, tapi karena musibah gempa, tsunami, dan radiasi itu semester pertama saya baru dimulai bulan Mei 2011.
12 Credits of Seminars and 18 Credits of Lectures
Di graduate school saya, untuk mendapatkan master degree saya mesti menyelesaikan 30 credits (seperti SKS kalau di Indonesia), menjalankan riset di lab, serta menyelesaikan tesis. Dari 30 credits itu, 12 credits berasal dari seminar (biasanya disebut master seminar atau M-zemi atau zemi).
Seminar adalah kelasnya profesor pembimbing, satu kelas seminar berisi mahasiswa satu lab. M-zemi isinya presentasi dan tanya jawab saja. Yang dipresentasikan adalah seputar riset yang dijalankan serta sejumlah paper. Seminar ini bobotnya 3 credits per semester, sehingga 12 credits itu diselesaikan dalam 4 semester. Jadi tampaknya memang tidak mungkin tamat dalam 1.5 tahun, hehe.
Sisa minimal 18 credits lagi berasal dari lectures, yakni perkuliahan. Tesis sendiri tidak ada kreditnya. Di departemen saya tidak ada mata kuliah wajib, sehingga untuk memenuhi 18 credits itu kita bebas memilih kuliah apa saja, termasuk kuliah dari departemen lain. Namun demikian, kelas bahasa Jepang tidak dihitung kreditnya untuk program master. Mata kuliah di departemen saya semua masing-masing berbobot 2 credits dan 2 credits ini dalam seminggu hanya 1.5 jam pertemuan di kelas.
Ada juga sejumlah kelas terkait skill bahasa Inggris seperti technical writing atau presentation, bobotnya 1 credit, tapi dalam seminggu juga 1.5 jam pertemuan di kelas.
Program master yang saya ambil adalah bagian dari International Program for Science and Engineering (IPSE), di mana perkuliahan dilaksanakan dalam bahasa Inggris. Semestinya sih pakai bahasa Inggris, tapi kenyataan di lapangan tidak sepenuhnya begitu, hehe. Nanti saya ceritakan di Part 2 tulisan ini.
Dari puluhan mata kuliah yang ada di departemen saya, mata kuliah yang termasuk IPSE ada 20. Gampangnya, untuk memenuhi 18 credits itu kita bisa ambil 9 di antara 20 mata kuliah IPSE (kalau tidak mau ambil kuliah non-IPSE yang diajarkan dalam bahasa Jepang).
Dilihat dari segi jumlah mata kuliah yang mesti diambil, bisa dibilang kuliah master itu santai sekali. Profesor saya menyarankan agar saya menyelesaikan semua kredit kuliah di tahun pertama saya, sehingga di tahun kedua saya tinggal menyelesaikan sisa kelas seminar serta tesis. Kebetulan saat research student saya sudah mengambil satu kuliah (2 credits) yang bisa ditransfer untuk master saya, jadi saya tinggal menyelesaikan 16 credits saja, alias cukup 4 kuliah per semester (di samping seminar), hehe. Alhamdulillah 18 credits kuliah plus 6 credits seminar sudah terpenuhi sekarang. Tinggal 6 credits seminar lagi, dan di tahun kedua saya bisa dibilang tidak ada kuliah lagi, ahaha.
Grading System
Sistem nilai di kampus saya kebetulan tidak jauh berbeda dengan di Indonesia. Bobot untuk GPA sama, maksimal 4.00. Bedanya di huruf nilainya saja. Nilai yang ada yaitu A+ (bobot 4), A (bobot 3), B (bobot 2), C (bobot 1), dan F (fail). Bisa dibilang A+, A, B, dan C itu berturut-turut setara dengan A, B, C, dan D. Cara menghitung GPA-nya juga sama dengan di Indonesia.
Suasana Perkuliahan
Dulu, dengan imej orang Jepang yang disiplin dan pekerja keras, dalam bayangan saya mahasiswanya tidak ada yang terlambat, tidak ada yang malas-malasan di kelas, serta suasana kelas aktif. Namun kenyataan yang saya temukan ternyata tidak sepenuhnya begitu. Wew.
Orang Jepang memang tepat waktu kalau urusan janjian, kerja, rapat, dan sejenisnya, bahkan biasanya sudah datang beberapa menit sebelum waktu seharusnya. Tapi untuk kuliah ternyata tidak juga. Mahasiswa Jepang juga ada yang terlambat, bahkan telatnya kadang ga tanggung-tanggung. Pernah ada di salah satu kelas yang saya ambil seorang mahasiswa datang 30 menit sebelum kuliah berakhir, sesuatu banget. Dan dosen yang mengajar juga tidak pernah menegur yang terlambat. Dibiarkan saja. Ga masalah sih buat saya, artinya tidak masalah kalau sewaktu-waktu saya terlambat, ahaha. Tapi dosen biasanya selalu datang tepat waktu atau beberapa menit sebelum kuliah dimulai.
Dulu saya kira mahasiswa Jepang di kelas akan memperhatikan kuliah dengan saksama, ternyata tidak juga. Yang ngantuk-ngantuk di kelas banyak, yang tidur di kelas juga kayaknya sudah biasa, sesuatu banget. Tapi buat saya itu tidak bisa dijadikan alasan sih buat men-judge orang Jepang bukan pekerja keras. Mungkin saja di kelas seperti itu, tapi kalau melaksanakan riset mati-matian. Siapa tau kan, hehe. Mahasiswa sibuk dengan laptopnya sendiri di kelas juga hal yang biasa.
Kelas di Jepang menurut saya pasif sekali, bahkan lebih pasif daripada di Indonesia. Pasif dalam artian tidak banyak interaksi antara dosen dan mahasiswa, misalnya saja tanya jawab. Dosen yang saya temui mengajar ibarat berbicara sendiri di kelas sepanjang waktu kuliah, hanya beberapa dosen yang sesekali bertanya ke mahasiswa. Dan mahasiswa Jepang sendiri tidak ada yang bertanya di kelas, sesuatu banget. Buat saya sih tidak masalah, soalnya saya juga malas bertanya apalagi ditanyai, hihi. Tapi buat sebagian orang yang terbiasa dengan kelas yang aktif mungkin ini jadi masalah.
Kelas juga terasa tenang sekali karena tidak ada yang ngobrol. Kontras sekali kalau saya bandingkan dengan kelas bahasa Jepang yang isinya mahasiswa dari Eropa atau Amerika, hehe.
Tidak Hanya Kuliah
Program master di Jepang tidak hanya sebatas kuliah dan tesis. Mahasiswa sudah masuk lab sejak tahun pertama master dan biasanya sudah memulai riset juga sejak awal. Selain itu, menurut saya dari segi waktu dan pikiran, bobot riset ini lebih besar dibanding kuliah. Pertanyaannya adalah, apakah riset yang dilakukan itu untuk tesis nanti? Nah, saya juga belum tau jawabannya, soalnya sampai sekarang saya sendiri belum ada bayangan tesis itu seperti apa, ahaha.
Seperti apa kehidupan riset kita biasanya sangat tergantung kepada profesor pembimbing. Dalam kasus saya, setelah saya memilih research group yang ingin saya masuki, profesor saya menyuruh saya memulai dengan membaca buku serta paper. Seiring berjalannya waktu, dari berbagai bacaan itu saya mencoba mencari apa yang kira-kira menarik untuk diteliti. Lalu kalau dirasa sudah cukup layak, profesor saya biasanya akan mendorong mahasiswanya untuk menulis paper untuk di-submit ke workshop, symposium, atau conference. Lain kali saya tuliskan cerita riset ini di tulisan terpisah.
Sekian dulu cerita kali ini. Baru itu yang terpikirkan di kepala saya untuk ditulis, hehe.
The more I live, the more I learn. The more I learn, the more I realize, the less I know. — Michel Legrand









