Planet IF2005

May 11, 2012

[13505047] Reisha Humaira

Sepotong Cerita Kuliah Master (Part 1)

Gedung 51 Nishiwaseda Campus, Waseda University

Memasuki tahun kedua saya di Jepang (cerita tahun pertama ada di sini), tepatnya musim semi 2011 saya resmi memulai perkuliahan saya sebagai mahasiswa master di Dept. of Computer Science and Engineering (情報理工学専攻), Graduate School of Fundamental Science and Engineering (基幹理工学研究科), Waseda University (早稲田大学). Perkuliahan saat itu mestinya dimulai sejak April 2011, tapi karena musibah gempa, tsunami, dan radiasi itu semester pertama saya baru dimulai bulan Mei 2011.

12 Credits of Seminars and 18 Credits of Lectures

Di graduate school saya, untuk mendapatkan master degree saya mesti menyelesaikan 30 credits (seperti SKS kalau di Indonesia), menjalankan riset di lab, serta menyelesaikan tesis. Dari 30 credits itu, 12 credits berasal dari seminar (biasanya disebut master seminar atau M-zemi atau zemi).

Seminar adalah kelasnya profesor pembimbing, satu kelas seminar berisi mahasiswa satu lab. M-zemi isinya presentasi dan tanya jawab saja. Yang dipresentasikan adalah seputar riset yang dijalankan serta sejumlah paper. Seminar ini bobotnya 3 credits per semester, sehingga 12 credits itu diselesaikan dalam 4 semester. Jadi tampaknya memang tidak mungkin tamat dalam 1.5 tahun, hehe.

Sisa minimal 18 credits lagi berasal dari lectures, yakni perkuliahan. Tesis sendiri tidak ada kreditnya. Di departemen saya tidak ada mata kuliah wajib, sehingga untuk memenuhi 18 credits itu kita bebas memilih kuliah apa saja, termasuk kuliah dari departemen lain. Namun demikian, kelas bahasa Jepang tidak dihitung kreditnya untuk program master. Mata kuliah di departemen saya semua masing-masing berbobot 2 credits dan 2 credits ini dalam seminggu hanya 1.5 jam pertemuan di kelas. :D Ada juga sejumlah kelas terkait skill bahasa Inggris seperti technical writing atau presentation, bobotnya 1 credit, tapi dalam seminggu juga 1.5 jam pertemuan di kelas.

Program master yang saya ambil adalah bagian dari International Program for Science and Engineering (IPSE), di mana perkuliahan dilaksanakan dalam bahasa Inggris. Semestinya sih pakai bahasa Inggris, tapi kenyataan di lapangan tidak sepenuhnya begitu, hehe. Nanti saya ceritakan di Part 2 tulisan ini. :P Dari puluhan mata kuliah yang ada di departemen saya, mata kuliah yang termasuk IPSE ada 20. Gampangnya, untuk memenuhi 18 credits itu kita bisa ambil 9 di antara 20 mata kuliah IPSE (kalau tidak mau ambil kuliah non-IPSE yang diajarkan dalam bahasa Jepang).

Dilihat dari segi jumlah mata kuliah yang mesti diambil, bisa dibilang kuliah master itu santai sekali. Profesor saya menyarankan agar saya menyelesaikan semua kredit kuliah di tahun pertama saya, sehingga di tahun kedua saya tinggal menyelesaikan sisa kelas seminar serta tesis. Kebetulan saat research student saya sudah mengambil satu kuliah (2 credits) yang bisa ditransfer untuk master saya, jadi saya tinggal menyelesaikan 16 credits saja, alias cukup 4 kuliah per semester (di samping seminar), hehe. Alhamdulillah 18 credits kuliah plus 6 credits seminar sudah terpenuhi sekarang. Tinggal 6 credits seminar lagi, dan di tahun kedua saya bisa dibilang tidak ada kuliah lagi, ahaha.

Grading System

Sistem nilai di kampus saya kebetulan tidak jauh berbeda dengan di Indonesia. Bobot untuk GPA sama, maksimal 4.00. Bedanya di huruf nilainya saja. Nilai yang ada yaitu A+ (bobot 4), A (bobot 3), B (bobot 2), C (bobot 1), dan F (fail). Bisa dibilang A+, A, B, dan C itu berturut-turut setara dengan A, B, C, dan D. Cara menghitung GPA-nya juga sama dengan di Indonesia.

Suasana Perkuliahan

Dulu, dengan imej orang Jepang yang disiplin dan pekerja keras, dalam bayangan saya mahasiswanya tidak ada yang terlambat, tidak ada yang malas-malasan di kelas, serta suasana kelas aktif. Namun kenyataan yang saya temukan ternyata tidak sepenuhnya begitu. Wew.

Orang Jepang memang tepat waktu kalau urusan janjian, kerja, rapat, dan sejenisnya, bahkan biasanya sudah datang beberapa menit sebelum waktu seharusnya. Tapi untuk kuliah ternyata tidak juga. Mahasiswa Jepang juga ada yang terlambat, bahkan telatnya kadang ga tanggung-tanggung. Pernah ada di salah satu kelas yang saya ambil seorang mahasiswa datang 30 menit sebelum kuliah berakhir, sesuatu banget. Dan dosen yang mengajar juga tidak pernah menegur yang terlambat. Dibiarkan saja. Ga masalah sih buat saya, artinya tidak masalah kalau sewaktu-waktu saya terlambat, ahaha. Tapi dosen biasanya selalu datang tepat waktu atau beberapa menit sebelum kuliah dimulai.

Dulu saya kira mahasiswa Jepang di kelas akan memperhatikan kuliah dengan saksama, ternyata tidak juga. Yang ngantuk-ngantuk di kelas banyak, yang tidur di kelas juga kayaknya sudah biasa, sesuatu banget. Tapi buat saya itu tidak bisa dijadikan alasan sih buat men-judge orang Jepang bukan pekerja keras. Mungkin saja di kelas seperti itu, tapi kalau melaksanakan riset mati-matian. Siapa tau kan, hehe. Mahasiswa sibuk dengan laptopnya sendiri di kelas juga hal yang biasa.

Kelas di Jepang menurut saya pasif sekali, bahkan lebih pasif daripada di Indonesia. Pasif dalam artian tidak banyak interaksi antara dosen dan mahasiswa, misalnya saja tanya jawab. Dosen yang saya temui mengajar ibarat berbicara sendiri di kelas sepanjang waktu kuliah, hanya beberapa dosen yang sesekali bertanya ke mahasiswa. Dan mahasiswa Jepang sendiri tidak ada yang bertanya di kelas, sesuatu banget. Buat saya sih tidak masalah, soalnya saya juga malas bertanya apalagi ditanyai, hihi. Tapi buat sebagian orang yang terbiasa dengan kelas yang aktif mungkin ini jadi masalah. :D  Kelas juga terasa tenang sekali karena tidak ada yang ngobrol. Kontras sekali kalau saya bandingkan dengan kelas bahasa Jepang yang isinya mahasiswa dari Eropa atau Amerika, hehe.

Tidak Hanya Kuliah

Program master di Jepang tidak hanya sebatas kuliah dan tesis. Mahasiswa sudah masuk lab sejak tahun pertama master dan biasanya sudah memulai riset juga sejak awal. Selain itu, menurut saya dari segi waktu dan pikiran, bobot riset ini lebih besar dibanding kuliah. Pertanyaannya adalah, apakah riset yang dilakukan itu untuk tesis nanti? Nah, saya juga belum tau jawabannya, soalnya sampai sekarang saya sendiri belum ada bayangan tesis itu seperti apa, ahaha.

Seperti apa kehidupan riset kita biasanya sangat tergantung kepada profesor pembimbing. Dalam kasus saya, setelah saya memilih research group yang ingin saya masuki, profesor saya menyuruh saya memulai dengan membaca buku serta paper. Seiring berjalannya waktu, dari berbagai bacaan itu saya mencoba mencari apa yang kira-kira menarik untuk diteliti. Lalu kalau dirasa sudah cukup layak, profesor saya biasanya akan mendorong mahasiswanya untuk menulis paper untuk di-submit ke workshop, symposium, atau conference. Lain kali saya tuliskan cerita riset ini di tulisan terpisah. :D

Sekian dulu cerita kali ini. Baru itu yang terpikirkan di kepala saya untuk ditulis, hehe.

The more I live, the more I learn. The more I learn, the more I realize, the less I know. — Michel Legrand


by Reisha at May 11, 2012 04:13 PM

May 10, 2012

[13505047] Reisha Humaira

Saya dan 7 Pagelaran Dies Natalis UKM-ITB

Tulisan kali ini buat nostalgia saja, mengingat-ingat kenangan acara yang rutin selama 7 tahun ini menghiasi hidup saya *tsaaah, lebay istilahnya*. :P Sekaligus menuliskan bagian yang belum jadi saya tuliskan di tulisan sebelumnya. Dies Natalis atau yang di UKM sering disebut dengan “dies” saja, merupakan acara tahunan UKM dalam rangka memperingati ulang tahun berdirinya UKM. UKM sebenarnya berdiri tanggal 1 Juni 1975, namun acara dies-nya biasanya diadakan sekitar bulan April atau Mei, sebelum jadwal UAS di ITB. Dies tidak hanya pagelaran saja, tapi ada beberapa acara lain juga dalam rangkaian acaranya. Di tulisan ini saya lebih banyak mengaitkan dengan pagelarannya, hehe.

Dies Natalis 31 “Sumarak Rantau Junjuang Nagari”; Aula Barat, 13 Mei 2006

Tari Galombang Pasambahan di Dies 31

Dies 31 merupakan dies pertama saya di UKM dan waktu itu diadakan di Aula Barat ITB. Buat saya Dies 31 adalah momen di mana saya bisa mengenal UKM lebih jauh. Walau saya sudah dilantik jadi anggota UKM sejak 11 Desember 2005 dan telah mengikuti proses PPAB-nya dari sejak akhir Agustus 2005, saya belum kenal dekat dengan UKM sebelum dies itu. Selama PPAB saya cuma tau datang untuk latihan tari Pasambahan. Yang ada di pikiran saya waktu mau masuk UKM adalah ingin belajar nari, itu saja, jadi tidak terlalu peduli dengan UKM sebagai organisasi, hihi.

Selama proses latihan Dies 31, barulah saya tau UKM lebih banyak. Kenal lebih banyak uda-uni-nya (bahkan baru kenal lebih banyak UKM’05 juga di dies, haha), tau yang mana pengurusnya, kenal suasananya seperti apa, tau beratnya latihan dies seperti apa, dsb. Saya salut juga waktu latihan, alumni UKM masih banyak yang datang, artinya kekeluargaan di unit ini cukup tinggi.

Di Dies 31 saya jadi personil Tari Galombang Pasambahan. Sebenarnya agak-agak gimana gitu waktu dulu ditempatkan di tari ini. Tari Galombang Pasambahan di Dies UKM itu modifikasi dari tarian yang dipelajari di PPAB, jadi gerakannya berbeda. Tapi sebenarnya waktu itu pengen dapat tari lain, biar belajar tari baru. Ya sudahlah. Toh belakangan saya sadari kalau sebenarnya tari ini selalu dapat sambutan meriah, soalnya opening, dan penonton masih semangat tepuk tangan, ahaha.

Dies Natalis 32 “Aso Palarai Ratok”; Sabuga, 28 April 2007

Tari Piriang Manggaro di Dies 32

Dies 32 buat saya adalah dies yang sangat menyita hati dan emosi *tsaaah, lebay lagi*. Rasanya prosesnya waktu itu lebih berat dibanding Dies 31. Suasananya juga terasa lebih “panas”, mungkin karena ada faktor pertama kalinya pagelaran UKM ingin diadakan di Sabuga. Di masa-masa itu sepertinya saya jadi salah satu orang yang menyebalkan di UKM, jadi tukang protes, galak, serem, jutek, or whatever you said, haha. Tapi sejujurnya di masa itu pula saya jadi belajar untuk berani menyampaikan pendapat di forum, biasanya saya memilih diam dan tidak mau ambil pusing apalagi berdebat.

Di Dies 32 saya jadi personil Tari Piriang Manggaro. Awalnya mau ditaruh di Tari Garak Kambang, tapi tiba-tiba diubah. Saya suka kedua tari itu sih sebenarnya, hehe. Pertama kali UKM tampil di Sabuga, dan sensasinya memang luar biasa berbeda. Sabuga memang lebih wah dibanding Aula Barat, terutama dari segi ukuran panggung dan jumlah penonton, walaupun ruangan Sabuga yang dipakai hanya 1/3-nya. Cerita Dies 32 ini pernah saya tulis di sini.

Dies Natalis 33 “Marantiang Budayo, Mamaga Pusako”; Sabuga, 3 Mei 2008

Front office di Dies 33

Dies 33 saat itu lebih dikenal dengan nama P3BM (Pekan Pameran dan Pagelaran Budaya Minangkabau). Pagelarannya adalah pagelaran terakhir buat UKM angkatan saya, karena yang tampil di pagelaran adalah anak tahun pertama, kedua, serta ketiga di UKM.

Karena pertimbangan akademik yang berat yang buat saya rasanya berat sekali untuk dibarengi dengan latihan UKM yang berat (too many kata “berat”, haha), akhirnya saya memilih untuk tidak jadi personil pagelaran. Dalam hati sanubari terdalam saya ingin sekali tampil, tapi dalam hidup ada saatnya untuk memilih, hehe.

Di P3BM ini saya bantu-bantu di kepanitiaan saja, jadi sekretaris. Dan rasanya saya juga kurang maksimal waktu itu. Untung saja teman-teman panitia baik hati dan tidak sombong #eh. Di hari-H sempat bantu-bantu di front office. Setelah beres, masuk dan duduk manis di dalam Sabuga menyaksikan teman-teman yang tampil, dan itu rasanya “sesuatu banget”. Cerita Dies 33 ini pernah saya tulis di sini.

Dies Natalis 34 “Basuluah Sumangaik, Maukia Maso”; Sabuga, 25 April 2009

Closing Dies 34

Dies 34 adalah pertama kalinya saya mengikuti pagelaran murni sebagai penonton. Sensasinya memang beda saat menonton sebagai angkatan atas dengan menonton sebagai bagian dari panitia. Tapi karena waktu itu masih jadi pelatih, sedikit banyak masih ada ikatan batin *caelah* dengan pagelarannya sendiri.

Tentang pagelarannya sendiri, saya lupa-lupa ingat sekarang kesan apa yang saya dapat. Tapi acara non-pagelaran yang ada di rangkaian Dies 34 ini berkesan sekali, yaitu UKM in Harmony. Selama saya di UKM rasanya baru di Dies 34 ini acara temu alumni-nya memang diniatkan sebagai acara “besar”, bukan sekedar kumpul-kumpul alumni pagi hari di hari-H pagelaran. Saya berharap suatu saat nanti ada lagi acara seperti ini, kumpul ramai-ramai dengan alumni UKM berbagai angkatan. :)  Cerita Dies 34 ini pernah saya tulis di sini.

Lustrum 7 “Maubek Tangih, Managuahan Hati”; Sabuga, 1 Mei 2010

DVD Lustrum 7

Lustrum adalah sebutan untuk acara 5 tahunan, jadi Lustrum 7 ini sama dengan Dies 35. 1 April 2010 saya sudah berangkat ke Jepang, alihasil saya mesti mengikhlaskan diri tidak bisa menonton pagelarannya. Sebelum berangkat saya sempat menyaksikan latihannya, jadi terbayang content pagelarannya walaupun saya tau kualitas performance UKM di hari-H biasaya jauh lebih all out dibanding saat gladi resik, apalagi saat latihan sebulan sebelum performance. Pasca pagelaran saya cuma bisa menyaksikan di Facebook foto-foto rangkaian acara Lustrum 7-nya. Mupeng berada di Bandung, tapi apa daya samudra memisahkan kita *eaaaa*.

Untuk keperluan kelas bahasa Jepang di sini, saya sempat minta di-upload-kan video Tari Piriang Lustrum 7. Setelah perjuangan panjang dengan internet yang pas-pasan di Bandung sana, akhirnya saya bisa menonton Tari Piriang-nya. Keren. Lalu beberapa waktu kemudian saya dibawakan Bima DVD Lustrum 7 ini. Melihat durasinya yang panjang, akhirnya saya skip bagian drama dan cuma menonton bagian tari, randai, dan musik kreasi, haha. Waktu lihat latihannya saya juga tidak terlalu tertarik dengan cerita dramanya.

Dies Natalis 36 “Manyibak Kaba, Mambangkik Aso”; Sabuga, 22 April 2011

Layar laptop saat menonton live streaming Dies 36, sambil komen-komenan di Plurk

Tadinya selama di Jepang saya sudah pasrah tidak bisa menonton pagelaran UKM, karena April-Mei itu bukan waktu libur di Jepang. Namun April 2011 kebetulan saya pulang ke Indonesia sebab perkuliahan saya diundur satu bulan karena gempa dan tsunami itu. Saya berharap sekali bisa nonton langsung di Sabuga, tapi tidak jadi. Begini ceritanya. Jadi saya sampai di Jakarta tanggal 31 Maret, lalu saya menginap di Jakarta karena mau menghadiri nikahan Syva-Ghifar tanggal 2 April. 2 April sore saya ke Bandung karena tanggal 3 April ada nikahan Geri-Witri. Berhubung 9 April ada wisudaan, akhirnya seminggu itu saya di Bandung dan baru pulang ke Bukittinggi tanggal 10 April. Nah, si pagelaran ini tanggal 22 April, pesawat saya balik ke Tokyo tanggal 24 April malam. Tadinya saya mau nego mama supaya diizinkan tanggal 22 April itu berada di Bandung, tapi mama saya berat hati melepaskan. Secara saya sudah menghabiskan waktu banyak di Bandung awal-awal kepulangan saya, masa baru beberapa hari di rumah sudah ke Bandung lagi. Kalau bisa, mungkin menurut mama saya berangkatnya tanggal 24 itu saja dari rumah. Ya, wajar memang. Saya juga tidak mau egois, akhirnya diikhlaskan saja nonton live-nya, walau kesempatan itu ada di depan mata.

Untungnya saat itu pertama kalinya UKM mengadakan live streaming pagelaran. Waktu di Bandung saya juga sempat sih lihat latihannya. Lalu berhubung tidak diperbolehkan ke Bandung, saya minta koneksi Speedy di rumah bisa saya monopoli malam itu untuk nonton live streaming, hihi. Alhamdulillah koneksi internetnya lancar sekali waktu itu jadi tidak ada masalah waktu menonton.

Bagian yang paling berkesan dari pagelaran Dies 36 ini adalah randainya. Randainya mantap sekali waktu itu, bahkan rasanya lebih heboh lihat randai ini dibandingkan Tari Piriang Manggaro waktu itu. Saya sebagai penari merasa kalah sekali dengan perandai, ahaha.

Dies Natalis 37 “Sumarak Nagari, Bapaga Adaik”; Sabuga, 29 April 2012

Closing Dies 37

April tahun ini memang tidak ada harapan berada di Indonesia, karena jadwal perkuliahan berjalan normal seperti biasa, hehe. Alhasil live streaming jadi satu-satunya jalan untuk menonton. Kali ini murni menonton tanpa pernah melatih, tanpa pernah lihat latihannya, tanpa pernah tau content pagelarannya apa. Saya cuma tau materi tari yang ditampilkan dari proposal dies-nya, tau ada drama dan tidak ada randai. Beberapa bagian tentunya jadi surprise sendiri buat saya karena pertama kali lihat, terutama bagian closing, hehe. Cerita selengkapnya tentang Dies 37 ini bisa dibaca di tulisan saya sebelumnya, hehe.

Kalau dari pengamatan foto-foto di Facebook sih, tampaknya acara Pre-Event di Dago Car Free Day seminggu sebelum pagelaran ini menarik sekali. Ada oyak tabuik. Seumur-umur saya belum pernah menyaksikan tabuik secara langsung.

*****

Reyhan UKM’09 pernah menulis seperti ini: “Setiap cerita diesku memiliki feel masing-masing. Aku selalu merindukan cerita masing-masingnya. Ini salah satu keluargaku, Unit Kesenian Minangkabau Institut Teknologi Bandung.” Dan saya setuju sekali dengan statement itu, karena itu juga yang saya rasakan. 7 tahun ini tidak ada yang sama dari dies-dies itu, masing-masing punya cerita sendiri. Dan, 7 tahun ini juga UKM jadi salah satu keluarga saya, walaupun saya sudah berada jauh di negeri ini. Tulisan ini catatan saya supaya saya tidak lupa, untuk beberapa tahun lagi saya baca dengan senyuman.

To look backward for a while is to refresh the eye, to restore it, and to render it the more fit for its prime function of looking forward. — Margaret Fairless Barber


by Reisha at May 10, 2012 09:19 AM

May 05, 2012

[13505036] Monterico Adrian

selembar kode eksplorasi

assalamu'alaykum

kembali punya ide, tapi kali ini tentang koding. sebenernya sih ga mau dan ga biasa posting yg beginian, tapi karena ga ada ide lain gapapa jugalah ya, siapa tau ada yg butuh nanti, termasuk saya juga :). jadi maaf klo bahasanya agak berantakan haha.

jadi selama sebulan terakhir saya mencoba beberapa framework PHP untuk coba dikoneksikan dengan DBMS yg "agak ga populer" di kalangan praktisi, yaitu oracle. setelah berhasil terkoneksi, saya coba performanya dengan membuat CRUD standar. lingkungan yg saya pakai yaitu windows 7, oracle 11g express (11.2.0), xampplite 1.7.3, code igniter 2.1.0, yii 1.1.10, dan zend 1.11.11 (minimal). berikut langkah-langkah dan hasil ujinya:

1. Instalasi Oracle 11g Express
yg belum punya software-nya, bisa di-download di situs oracle, besarnya sekitar 312 mb. tapi harus punya akun oracle dulu sih. daftar aja, gratis kok. lakukan instalasi seperti biasa, yg penting adalah isi password untuk akun SYSTEM (admin DB) dan jangan sampai lupa :)

2. Konfigurasi Apache HTTP Server
buka file php.ini (biasanya ada di folder "tempat_instalasi/php"), uncomment (hapus karakter ';') pada baris "extension=php_oci8.dll" (untuk ci dan zend) atau pada baris "extension=php_pdo_oci.dll" (untuk yii), untuk mengaktifkan library php oracle connection interface. save php.ini, jalankan (atau restart) apache. jika tidak terjadi error "oci missing" dsb, maka konfigurasi sukses. jika error, maka ada masalah dengan instalasi oracle atau konfigurasi apache-nya

3. Manajemen DB Oracle
kelola DB dengan memakai aplikasi bawaan instalasi oracle, sql*plus. aplikasi ini console-based, jadi kalau mau yg lebih ber-"UI" bisa menggunakan sqldeveloper, bisa di-download di situs oracle juga. oracle juga mempunyai aplikasi bawaan yg web-based yaitu application express (bisa diakses lewat browser di localhost:8080/apex). application express berguna untuk monitoring, maintenance, user management, workspacing, dan wizard untuk membuat aplikasi berbasis DB oracle. di oracle 10g, pengelolaan DB dapat dilakukan juga disini. tapi di oracle 11g tidak bisa, atau saya yg kurang eksplorasi :)

4. Code Igniter
nah sekarang sudah masuk ke tiap framework. untuk ci, ternyata mudah konfigurasinya. di file konfigurasi DB ("application/config/database.php") cukup bagian ini saja yg diganti:

$db['default']['hostname'] = ''; //kosongkan saja
$db['default']['username'] = 'SYSTEM'; //user
$db['default']['password'] = 'oracle'; //password
$db['default']['database'] = ''; //kosongkan saja
$db['default']['dbdriver'] = 'oci8'; //nama driver untuk oracle

setelah itu, buat CRUD standarnya. catatan untuk ci, nama tabel dan kolom yg diambil harus memakai huruf kapital, walau DB yg dibuat tidak memakai huruf kapital (behavior oracle). jika keluar error "$rowcount not defined" dsb, berarti tidak ada masalah dengan koneksi dan fetch datanya. ternyata ini adalah masalah (bug) pada file driver untuk koneksi PHP ke DB oracle. solusinya, ganti kata "$rowcount" menjadi "$this->num_rows" pada file "system/database/drivers/oci8/oci8_result.php". seharusnya sudah tidak error lagi :). untuk versi ci 2.1.0 ternyata terdapat lumayan banyak masalah (sumber: bugtracker ci), jadi jika tidak ingin mengambil resiko, silakan memakai ci 2.0.3, karena lebih stabil (setelah saya coba, langsung bisa dan tidak terjadi error seperti sebelumnya)

5. Yii
untuk yii, konfigurasi DB ("namafolderaplikasi/protected/config/main.php") seperti ini:

 'db'=>array(
     'connectionString' => "oci:dbname=XE;charset=UTF8",
     'username' => 'SYSTEM',
     'password' => 'oracle',
 ),

tetapi ketika mengakses gii untuk membuat kelas model dari DB dengan model generator-nya, maximum execution time of 60 seconds exceeded. jadi ganti dulu di php.ini variabel "max_execution_time" menjadi lebih besar. memang berat resource sekali oracle ini :)

6. Zend
untuk zend, agak sulit untuk meletakkan konfigurasi DB di "namafolderaplikasi/application/configs/application.ini", juga untuk generate kelas model dari DB. jadi saya langsung mencoba di controller, yaitu seperti ini:

 $db = Zend_Db::factory('oracle', array(
       'username' => 'SYSTEM',
       'password' => 'oracleplus',
       'dbname'   => '//localhost/XE'
 ));

jangan lupa, pengaksesan kolom memakai huruf kapital

7. Performa
sebenernya saya ga pakai metode atau aplikasi tes sih, cuma melihat dari sisi waktu load-time aja. dari ketiga framework itu, CI paling cepat, disusul zend, dan yg terakhir yii. perkiraan saya, mungkin karena yii memakai kelas model dan yii memakai PDO (PHP data object) untuk akses koneksinya

oke segitu dulu racauan dari saya, semoga membantu bagi yg mau coba-coba framework PHP dengan oracle

wassalamu'alaykum

by Monterico "ricong" Adrian (noreply@blogger.com) at May 05, 2012 07:57 AM

May 02, 2012

[13505100] Husein Azmi El Firdausi

sule

sejak saat itu,
saya berubah.

secara fisik, makin kurus.
secara non-fisik, produktivitas menurun.
tulisan di blog saja, sudah tak rutin ada tiap bulan seperti dahulu.

secara finansial, merugi.
mungkin karena finansial. coba kalo finanuntung, pasti melaba.

hal-hal yg meningkat dan mendekat,
tidak sebanding banyaknya dengan yg menurun dan menjauh.

saya kehilangan,
saya ditinggalkan.

maafkan saya,
saya sudah salah jalan.

semoga semuanya jadi lebih baik.

mari kita sama2 menghela nafas,
hfhgh.. hhhaaaahhh..

bagaimana?
sule? sule?
(sudah lega)? (sudah lega)?


by uchenk at May 02, 2012 09:16 AM

April 30, 2012

[13505047] Reisha Humaira

Nonton Live Streaming Pagelaran Dies Natalis 37 UKM-ITB

Tahun 2007, 2008, dan 2009 saya rajin menuliskan review apa yang saya rasakan di pagelaran Dies Natalis UKM-ITB. Tahun 2010 saya tidak menyaksikan pagelarannya berhubung sudah berada di Tokyo ini, jadi tidak ada yang bisa dituliskan. Suatu ketika saya berandai-andai di milis UKM, berharap ada live streaming pagelaran UKM sehingga alumni yang jauh di seluruh penjuru dunia bisa menonton juga. Itu lebih karena harapan pribadi sih soalnya saya ingin sekali menonton, lalu sok-sok-an kasih alasan diplomatis, haha. Saya dulu juga mengira hal itu mungkin sulit direalisasikan jadi tidak terlalu berharap, eh rupanya tahun 2011 direalisasikan oleh adik-adik UKM.

Tahun 2011 sebenarnya saat pagelaran itu saya berada di Indonesia tapi tidak di Bandung, jadi saya ikut menyaksikan dari live streaming. Tahun 2012 ini saya juga menyaksikan dari live streaming lagi, tapi dari Tokyo, hehe. Tadinya mau nulis cerita tentang live streaming tahun lalu juga di tulisan ini (berhubung tahun lalu malas nge-blog :D ), tapi takut jadinya panjang sekali, jadi sekarang saya tulis tentang pagelaran semalam dulu saja. :D

This is Wonderful Minangkabau

Poster Pagelaran Dies Natalis 37 UKM-ITB

Pagelaran Dies Natalis 37 UKM kemarin berjudul “Sumarak Nagari, Bapaga Adaik”. Format acara secara umum tidak jauh beda dengan tahun-tahun sebelumnya: dibuka dengan tari Galombang Pasambahan, lalu pengumuman pemenang lomba Science Tech, lanjut dengan pagelarannya sendiri berupa drama klasik Minangkabau diselingi Tari Tapuak Tingkah, Tari Kipeh Marawa, Tari Indang, Tari Tunggak  Titian, Tari Rantak, dan Tari Piriang Manggaro.

Waktu MC menyebutkan judul drama kali ini adalah “Sutan Lembak Tuah”, saya langsung tertarik. Dulu waktu SMP saya pernah dapat tugas kelompok untuk menampilkan drama yang disadur dari cerita Kaba. Kebetulan kelompok saya mengambil Kaba Sutan Lembak Tuah, hanya saja saya sudah lupa jalan ceritanya bagaimana. Yang saya ingat waktu itu saya jadi mandeh, tapi bahkan sudah lupa jadi mandeh-nya tokoh utama pria atau wanita, hehe.

Setelah tanya sana-sini ke teman SMP yang dulu sekelompok serta panitia UKM-nya sendiri, tampaknya drama di pagelaran kemarin memang diubah sedikit dari cerita Kaba aslinya. Diceritakan Lembak Tuah dijodohkan dengan Rabiatun. Di sisi lain ada preman kampung (lupa namanya siapa) tertarik ke Rabiatun, sudah melamar berulang kali tapi ditolak. Akhirnya Lembak Tuah difitnah sehingga terusir dari kampung, tapi akhirnya ketahuan juga kalau itu fitnah sehingga akhirnya Lembak Tuah bisa kembali lagi ke kampungnya. Simpelnya begitulah kira-kira. :D

Beberapa adegan drama di awal menurut saya terkesan agak terburu-buru. Saya tahu sih panitia sekarang ingin mengurangi durasi pagelaran semaksimal mungkin, soalnya dari tahun ke tahun perkara durasi ini cukup jadi masalah buat UKM, walaupun overall sebenarnya bagus. Adegan inti yang agak singkat itu terasa kontras saja dengan adegan garing yang memakan waktu sekitar 20an menit. Tapi adegan selanjutnya tidak masalah. Apalagi pas adegan bisu tanpa dialog, menurut saya itu satu cara yang cerdas sekali untuk memotong durasi, menghilangkan dialog panjang tapi nyatanya tetap mampu menggambarkan cerita.

Lalu di satu adegan di mana Lembak Tuah rindu sekali untuk bertemu ibunya di kampung, pemusik mengiringi dengan lagu Batu Tagak. Ya ampun, baru dengar lantunan musik awalnya saja saya langsung ingat reff-nya “basaba lah mandeh, mananti”. Mata langsung basah mengingat sudah setahun ga ketemu mama. Beres lagu itu dilanjut donk dengan musik Bunda-nya Potret (Melly Goeslaw). Bener-bener sadis dah ini, bikin nangis dan pengen pulang kampung, huhu. Sukses sekali kalian mengaduk-ngaduk emosi saya. :(

Musik keren, vokal dan dendang juga bagus banget. Lalu tariannya juga bagus. Kayaknya sudah bukan zaman saya mengomentari detail tarian, huehe, tapi dari segi formasi tari saya salut sekali. Makin lama formasi tari UKM makin kreatif. Mungkin didukung penarinya yang banyak dan panggung yang luas, jadi penari bebas berkreasi dengan formasi, formasi yang mungkin dulu-dulu tak pernah terpikirkan.

Saat opening, UKM menampilkan video yang diambil di sekre UKM, memperkenalkan panitia inti yang sudah bekerja keras untuk acara ini. Video ini bikin saya kangen main ke sekre UKM, hehe. Tapi tampaknya opening pagelaran ini agak kalah meriah dibanding closing-nya. Sungguh closing kali ini kreatif sekali, tak pernah ada di pagelaran-pagelaran UKM sebelumnya. Lucu dan rapi sekali. Videonya bisa dilihat di sini.

Overall: wonderful, rancak bana! Tapi saya berharap adik-adik UKM tidak berpuas diri di situ saja. Semoga ke depannya lebih kreatif lagi, mungkin dengan format acara baru yang totally berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. :)

Nonton Live Streaming

Live streaming pagelaran UKM memang sangat saya nantikan. Berulang-ulang saya bertanya memastikan ke panitianya, apakah live streaming tahun ini bakal ada, soalnya kalau tidak ada saya bakal kecewa, ahaha. Pagelaran dijadwalkan mulai jam 19.00 WIB, yang artinya sama dengan jam 21.00 JST waktu sini.  Dari jam 20.45 JST saya sudah menyiapkan laptop dan cemilan (kayak nonton bioskop aja, haha). Saya buka website live streaming-nya dan ternyata sudah ada, walau cuma ada penampakan panggung dengan backsound lagu-lagu Minang. Agak lama juga menunggu soalnya pagelarannya baru mulai sekitar jam 21.20 JST.

Saat pagelaran dimulai, kualitas suara tidak bagus, mendengung dan tidak terlalu jelas. Seingat saya tahun lalu tidak ada masalah dengan sound saat live streaming. Untungnya setelah tari Galombang Pasambahan suaranya sudah lebih baik, tapi saat tari Piriang Manggaro sempat mendengung lagi.

Beberapa menit di awal sempat banyak dapat laporan kalau website-nya tidak bisa diakses. Astaga, tampaknya server-nya bermasalah begitu banyak yang akses. Panitia baru memberi solusi link lain (link asal streaming-nya, bukan website UKM yang meng-embed video streaming-nya) di tengah acara setelah beberapa alumni UKM menanyakan. Ke depannya perlu diperbaiki lagi live streaming ini. Saya tau UKM sudah berusaha maksimal untuk itu, semoga bisa lebih baik lagi.

Sepanjang acara di grup UKM di Facebook beberapa alumni yang juga menonton live streaming mengomentari banyak hal tentang acara yang sedang ditonton, hehe. Sudah semacam live comment. Pujian bertaburan, kritikan tentu saja tetap ada. Semoga dibaca oleh panitia dan direkap evaluasinya, soalnya komentarnya ada 300 lebih, haha. Akhirnya layar laptop saya tata seperti ini supaya tidak perlu pindah tab kalau mau berkomentar di Facebook, wkwk. Saya juga mengambil beberapa screen shot dari pagelaran ini, mungkin tidak terlalu jelas, tapi lumayan buat kenang-kenangan nonton live streaming. :D

Layar laptop saat menonton live streaming pagelaran

Secara keseluruhan, alhamdulillah saya bisa menyaksikan live streaming ini dengan lancar. Mungkin faktor koneksi internet juga dan beruntung sudah mengakses website-nya dari sebelum acara dimulai. Kalau saya terlambat mungkin saya cuma bisa menyaksikan setengahnya.

*****

Pagelaran UKM buat saya adalah salah satu acara yang akan selalu saya nanti-nantikan. Nostalgia. Saya yakin orang-orang yang pernah terlibat di dalamnya merasakan hal yang sama. Saya berharap tahun depan kalau pagelarannya masih ada, saya bisa menyaksikan langsung di Bandung. Suasananya berbeda sekali tentunya. Melihat kemeriahan dan kehebohan di dalam Sabuga pasca acara, ingin rasanya berada di sana juga. Juga silaturrahim bertemu uda-uda, uni-uni, kawan-kawan, serta adiak-adiak UKM. Tetap semangat buat UKM, semoga makin sukses ke depannya. :)

“Live streaming, delivering live over the Internet, involves a camera for the media, an encoder to digitize the content, a media publisher, and a content delivery network to distribute and deliver the content.”, Wikipedia said. Thanks to this technology, so that, although we were separated for about 5.800 km, I could still watch the performance. おめでとう. I am waiting for another great performance of UKM. :)


by Reisha at April 30, 2012 01:39 PM